Menyusuri Jejak Tiga Kerajaan Besar

Jawa Timur merupakan pusat dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa.
Hampir 75 persen kerajaan yang ada di Jawa, terletak di Jawa Timur.
Salah satu kerajaan tertua yang ada di Jawa Timur adalah Medang
Kamolan. Sedangkan beberapa kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur
adalah Medang Kamolan, Kahuripan, Kalingga, Singosari, Daha Kediri dan
yang paling termuda adalah Majapahit.

Menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu adalah sebuah pengalaman yang
mengasyikkan. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu. Keuntungan tersebut antara lain, mampu
mempelajari sejarah dari kerajaan tersebut dan mengenal raja-raja yang
pernah ada di tanah Jawa khususnya Jawa Timur, serta menjadi titik
perenungan kita untuk mengetahui diri sejati kita. Karena bagaimanapun
nenek moyang kita juga pernah hidup di jaman kerajaan-kerajaan itu.

Kami jauh-jauh hari sudah sepakat untuk melakukan penelusuran di tiga
kerajaan besar di Jawa Timur yang sudah ada yakni kerajaan Kahuripan,
Kediri dan Majapahit. Tiga kerajaan itulah yang nyata-nyata pernah
menguasai nusantara. Kami berencana untuk melakukan perjalanan tersebut dalam waktu satu malam. Situs sejarah kerajaan Kahuripan berada di Pegunungan Penanggungan tepatnya di pemandian Jolotundo.
Pemandian Jolotundo merupakan situs bersejarah karena tempat tersebut merupakan tempat Prabu Airlangga bertapa dan meninggalkan hiruk pikuk dunia, setelah itu beliau mengakhiri lelakunya itu dengan mandi di kolam tersebut. Oleh karena itu, pemandian Jolotundo tersebut disebut juga dengan Padusan Prabu Airlangga.

Sebelumnya kami berencana untuk melakukan penelusuran di tiga kerajaan tersebut dengan beberapa orang yakni, Hastu, Widji, Feri, Pak Sutrisno, Aku dan Atim. Namun, entah mengapa beberapa orang membatalkan niatnya untuk berangkat. Widji batal berangkat karena istrinya tidak mengijinkan. Pak Sutrisno juga membatalkan niatnya untuk berangkat karena ada urusan pengambilan duit. Kalau hendak melakukan ritual seperti itu, maka urusan dunia harus dilepaskan terlebih dulu.

Akhirnya, hanya kami berempat saja yang memutuskan untuk terus
berangkat. Meski aral melintang, tidak menghentikan langkah kami untuk
tetap melakukan ritual menyusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur
tersebut. Aku, Hastu, Feri dan Atim pun membulatkan tekad untuk
melakukan ritual tersebut. Atim hanya sebatas sopir. Jadi ia tidak ikut
ritual dan hanya menunggu di mobil saja.

Perjalanan pun kami mulai pukul 18.30 WIB. Mobil pun langsung menuju ke wilayah pegunungan Penanggungan. Sesampainya di lokasi waktu
menunjukkan pukul 20.30 WIB, kami langsung disambut oleh hujan deras.
Kami (aku, Hastu dan Feri) memutuskan untuk menunggu hujan reda sebelum masuk ke areal padusan Prabu Airlangga. Saat menunggu tersebut, aku melihat ada binatang Walang Kadung, sedangkan Feri melihat ada binatang Kolo Monggo. Dari pandangan batinku, binatang-binatang tersebut merupakan pertanda dari GUSTI ALLAH. Walang Kadung artinya, Barang kang dadi pepalang nanging wis kadung (Sesuatu yang menjadi penghalang tetapi sudah terlanjur).

Begitu melihat binatang tersebut, mulutku langsung
mengucap,”Ingat-ingat ya, kita akan menghadapi tiga halangan yang
besar dalam ritual kita.” Halangan yang pertama adalah hujan.
Sedangkan Kolo Monggo menurut pandangan batinku adalah Kolo = saat,
Monggo = Masuk/Silakan/Ritual. Jadi Kolo Monggo artinya adalah saatnya untuk masuk dan melakukan ritual.

Begitu melihat tanda-tanda tersebut, aku dan teman-teman segera
bergegas untuk masuk ke situs padusan Sang Prabu Airlangga tersebut
meski hujan deras masih mengguyur. Kami pun menaiki bebatuan dan
membakar dupa terlebih dulu untuk meminta ijin dan perlindungan GUSTI
ALLAH sebagai penguasa alam agar tidak terjadi apapun yang menghalangi ritual kami untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH sembari menyusuri sejarah. Setelah melakukan semedi beberapa menit, kami pun melanjutkan ritual dengan mandi di padusan Prabu Airlangga.
Dinginnya air pegunungan Penanggungan di malam hari itu tidak
menghalangi niatku bersama teman-teman. Kami pun mandi di air yang
terasa sedingin es. Selesai mandi, kami melanjutkan dengan semedi di
tepi kolam. Suasana haru terasa di benakku. Pasalnya, hujan deras yang
mengguyur tersebut langsung berhenti begitu kami melakukan ritual.
Artinya, memang hujan tersebut menjadi pepalang. Kami serasa diuji,
apakah terus melakukan ritual meski kondisi hujan. Dan ketika kami
memutuskan untuk terus melakukan ritual, hujan pun berhenti seolah
menyimak apa yang kami lakukan. Selesai semedi, kami pun segera
mengakhiri ritual di kerajaan kahuripan dan bersiap-siap untuk menuju
ke Kediri ke situs tempat moksa-nya Sri Aji Joyoboyo.

Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo

Mobil berangkat dari Jolotundo pukul 22.30 WIB dan sampai di desa
Pamenang Kediri pukul 00.10 WIB. Laju mobil kami itu terasa bak kilat.
Sesampainya di Pamenang, kami langsung menuju ke air sumber Tirto
Kamandanu untuk mandi dan bersuci terlebih dulu. Hanya Hastu yang tidak mandi. Dari wajahnya, aku melihat bahwa dia merasa asing dan takut di tempat yang belum pernah dikenalnya. Artinya, hanya aku dan Feri yang mandi dan melanjutkan semedi di petilasan Joyoboyo Srigati.

Ketika tengah asyik-asyiknya semedi, hujan pun turun dan mengguyur bumi Pamenang. Namun, aku dan Feri tidak bergeming sedikitpun. Kami terus melakukan semedi. Seusai melakukan semedi di lokasi tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo yang
berjarak sekitar 1-2 km dari Joyoboyo Srigati. Sembari melakukan
perjalanan, aku ngomong ke teman-teman,”Hujan inilah pepalang yang
kedua.”

Sesudah memarkir mobil, kami pun berjalan sekitar 200 meter. Saat
berjalan itu, Hastu mengatakan,”Mas nanti kalau ada apa-apa terhadap
saya, tolongin saya ya…” “Ada apa tu…, Kalau kamu memiliki niatan
baik, semuanya pasti berakhir baik. Tapi kalau kamu mempunyai niatan
buruk, maka hal terburuk yang akan kamu terima,” sergah Feri dengan
nada yang sedikit membentak. Sedangkan aku hanya diam saja menikmati ritual tersebut.

Sesampainya di Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo, kami duduk di pendopo terlebih dulu. Dalam duduk diam itu, aku mendengar kata-kata ghaib yang menyatakan bahwa kami harus memutari Pamoksan itu tujuh kali sebelum akhirnya masuk ke Pamoksan. Hal itupun aku lakukan bersama Feri, sedangkan Hastu hanya melakukan beberapa kali putaran saja. Lantai di Pamoksan cukup basah. Namun aku tidak pedulikan hal itu. Aku duduk bersama Feri di Pamoksan sembari meminta ijin pada GUSTI ALLAH agar diperbolehkan nyekar Sri Aji Mapanji Joyoboyo. Alhamdulillah hal itupun akhirnya menjadi kenyataan. Aku bertemu Sang Prabu Sri Aji Mapanji Joyoboyo meski lewat pandangan batin. Beliau memberi pitutur banyak.

Selesai melakukan ritual di Pamoksan tersebut, aku melanjutkan ke
petilasan Resi Mayangkara yang lokasinya hanya 10 meter dari Pamoksan. Di petilasan Resi Mayangkara tersebut cukup hening sehingga aku dan Feri dapat melakukan meditasi dengan cepat sembari nyekar Resi Mayangkara. Seusai dari petilasan Resi Mayangkara, kami pun melanjutkan perjalanan di lokasi yang ketiga yakni ke Siti Inggil yang merupakan petilasan Prabu Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Siti Inggil

Kami meninggalkan desa Pamenang Kediri sekitar pukul 02.30 WIB.
Mobilpun kembali bergerak cukup cepat. Kulihat Feri dan Hastu tertidur
pulas di dalam mobil. Sedangkan aku masih terus terjaga hingga tiba di
Siti Inggil. Sesampainya di Siti Inggil, Feri pun terbangun dan
langsung ikut denganku melakukan ritual. Sementara Hastu memilih untuk
tetap tidur di dalam mobil.

Setelah melakukan semedi di Siti Inggil, kami berziarah ke petilasan
Raden Wijaya. Di tempat tersebut, aku kembali mendengarkan kata-kata
ghaib yang menyatakan terimakasih pada kami bahwa kami sudah berhasil menelusuri tiga kerajaan besar dalam waktu satu malam. Sekeluarnya dari Areal petilasan Raden Wijaya, Aku kembali ngomong ke teman-temanku bahwa pepalang ketiga yang kecil tetapi memiliki arti yang cukup besar adalah Ngantuk. Artinya, selama melakukan ritual, kita tidak boleh tidur. Karena namanya saja lelaku, maka orang yang tidur bukanlah orang lelaku. Itulah pelajaran yang kami terima selama menelusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur.

1 Komentar (+add yours?)

  1. fanny septianto
    Des 12, 2009 @ 05:45:55

    alhamdulilah anda bisa menelusuri 3 kerajaan besar dgan pjalanan semalaman….slam knal..aq pgen tau lbih bnyak crita lelaku anda..trims

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Arsip Tulisan

Tamu

  • 42,606 Orang
%d blogger menyukai ini: