Membelah Kabut Trowulan

Candi Trowulan

Mencari jati diri adalah kewajiban seorang salik. Proses pencarian jati diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses itu sangatlah panjang dan penuh ‘kerikil tajam’. Rahasia demi rahasia terkuak satu per satu. Itulah yang membuatku untuk mencari dan mencari tak pernah berhenti.

Gelap malam mulai merayap. Beberapa teman mengajakku untuk melakukan ritual proses pencarian jati diri. Hatiku yang mulai sedari siang hari terasa hampa, segera saja kuiyakan ajakan itu. Kami berangkat ke Siti Inggil di Trowulan-Mojokerto dengan mengendarai mobil pick-up. Karena jumlah kami ada lima orang, maka harus ada yang rela duduk di bak pick-up belakang.
Aku memilih untuk duduk di bak pick-up belakang bersama beberapa teman antara lain Hastu dan Wiji. Sedangkan di depan duduk Feri dan Atim selaku sopir. Saat memasuki kota Mojokerto, hatiku senantiasa berdebar-debar. Seolah-olah di benak yang terdalam ada sesuatu hal yang cukup membuat hatiku girang. Entah apa itu aku sendiri tidak tahu.

Mobil panther pick-up hitam membelah malam dan ketika keluar dari kota Mojokerto, kami disambut kabut Trowulan yang sangat tebal. Kabut tebal itu tidak merontokkan semangat kami untuk tetap meneruskan perjalanan. Kabut-kabut itu seperti teman yang senantiasa memandu kemana kami harus melakukan proses pencarian diri itu.

Mobil terus melaju dan memasuki areal Maha Vihara Majapahit. Daerah pedesaan mulai menyapa kami. Mobilpun terhenti di areal Siti Inggil. Sebelum melakukan pendakian spiritual, lebih dulu kami makan dan minum kopi sambil beristirahat sebentar untuk melepas lelah dari perjalanan yang memakan waktu 1,5 jam.

Selesai beristirahat, saatnya kami memulai pendakian spiritual. Kami lantas menuju ke areal panembah Gusti Allah. Aku tidak tahu apa namanya areal itu, yang jelas sebelum memasuki areal makam Raden Wijaya (Raja Majapahit pertama) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana, kita diwajibkan untuk melakukan panembah terlebih dulu pada GUSTI ALLAH di sebuah areal yang tinggi. Di areal itu, kita hanya duduk bertafakur (meminjam istilah Islam) dan memuji keberadaan GUSTI ALLAH.

Saat duduk dalam kepasrahan itulah, aku sudah tidak ingat lagi urusan kantor, urusan keluarga apalagi urusan hutang. Aku merasa bahwa GUSTI ALLAH begitu dekat denganku. Aku berada dalam rengkuhanNYA. Tak lagi kudengar kata-kata orang berbicara, meski di sekitar tempat tersebut banyak orang yang berbicara dengan suara yang keras. Yang kutemui hanyalah damai dan sejahtera.

Ketika aku berada dalam keadaan hening itu, lamat-lamat terdengarlah suara kaki kuda yang berjalan ke arahku. Tetapi karena tekadku untuk memuji GUSTI ALLAH teramat besar, tak kuhiraukan suara itu. Suara itupun menghilang. Saking asyiknya duduk sambil manembah, tak terasa aku sudah duduk di tempat itu selama 1,5 jam. Dan kulihat teman-teman yang duduk di sebelahku sudah tidak ada lagi. Hanya aku seorang diri. Kunikmati keadaan itu. Yah…memang kadang-kadang seorang manusia perlu memiliki waktu untuk sendiri.

Begitu selesai manembah, kami pun duduk di pendopo Siti Inggil untuk menunggu tanda-tanda alam bahwa kami boleh memasuki areal makam Raden Wijaya. Tanda itupun akhirnya aku dapatkan. Saat memejamkan mata sejenak, aku melihat sorot cahaya yang begitu terang dari dalam areal makam. Seketika, aku ajak teman-teman untuk memasuki areal makam. Di lokasi areal makam yang cukup luas itu, kami duduk untuk meminta izin GUSTI ALLAH agar diperkenankan nyekar. Dalam proses nyekar itu, aku mendengar suara ghaib yang menasehati aku. Usai nyekar, kamipun minum dari sumber mata air yang ada di Siti Inggil dan meneruskan perjalanan ke areal makam Tribuana Tungga Dewi.

Areal makam ataupun petilasan Tribuana Tungga Dewi cukup jauh dari Siti Inggil sekitar 10 Km dan terletak di tengah-tengah sawah. Kami pun masuk dan semedi di tempat itu. Aku tidak lagi mendengar suara-suara ghaib di areal itu. Saat melakukan meditasi itulah, aku tidak kuat menyangga tubuhku sendiri.

Dalam posisi duduk itu, aku pun tergeletak. Saat tergeletak itulah, aku yang masih dalam posisi duduk bersila menengadah ke langit. Dan kulihat sinar yang begitu terang di atas langit. Aku tak peduli sinar apa itu. Yang jelas, aku selami saja keberadaan sinar itu. Dan semakin kuselami sinar terang itu, hatiku pun semakin tenang. Tiba-tiba terasa ada tangan yang membelai rambutku. Belaian itupun sangat lembut. Tapi ketika aku tersentak, tak kulihat lagi tangan itu.

Pengalaman spiritual itu alhamdulillah semakin menambah wawasanku bahwa GUSTI ALLAH itu maha besar, maha suci, maha mendengar, maha lembut dan sejuta MAHA untuk GUSTI Ingkang Akaryo Jagad.

4 Komentar (+add yours?)

  1. suluh
    Mar 12, 2008 @ 13:06:16

    Itu pengalaman pribadi ya……Tiap orang kan lain-lain pengalamannya….

    Balas

  2. agung ( denny )
    Nov 07, 2009 @ 08:23:31

    Permisi tanya , dimana tepatny lokasi pertilasan tribhuwana tungga dewi yg berada di Mojokerto? apakah di ds Klinterejo?
    terimakasih atas bantuan informasinya.

    denny

    Balas

  3. agung ( denny )
    Nov 07, 2009 @ 08:24:12

    Permisi tanya , dimana tepatnya lokasi pertilasan tribhuwana tungga dewi yg berada di Mojokerto? apakah di ds Klinterejo?
    terimakasih atas bantuan informasinya.

    denny

    Balas

  4. helmidar darwis
    Jan 09, 2012 @ 14:53:48

    tepatnya dimana pasareannya Ibu Gayatri atau ibunda dari Tribhuana tunggadewi..? suwun,,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip Tulisan

Tamu

  • 42,606 Orang
%d blogger menyukai ini: