Alunan Rebana di Masjid Sunan Kalijaga
25 Mar 2008 4 Komentar
in 1
Pada tanggal 20 Maret lalu, merupakan peringatan hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Sayang, apabila acara itu disia-siakan begitu saja. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan bahwa peringatan Maulid Nabi tahun ini kami akan merayakannya di Demak.
Alhamdulillah rencana itupun menjadi kenyataan. Kami berangkat dari Surabaya menuju ke Demak pada pukul 12.00 WIB siang. Keberangkatan kami berawal dari Bungurasih dengan naik bus jurusan Semarang. Kami sengaja memilih bus yang tidak ber AC agar kami bisa bebas merokok.
Bus tersebut melaju bak ‘setan’. Dengan kecepatan sangat tinggi dan tidak peduli dengan penumpang yang sedikit, bus tersebut seolah-olah didorong dari belakang.
Kami tiba di kota Demak sekitar pukul 18.30 WIB. Lantaran niat kami sebagai orang-orang salik adalah untuk mencari suluk yang tersirat, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki dari pintu gerbang kota Demak ke masjid Sunan Kalijaga. Perjalanan tersebut sungguh melelahkan. Bayangkan saja, kami harus berjalan sejauh 15 km menyusuri jalan basah yang disertai dengan rintik gerimis hujan.
Hanya baju yang menempel di Badan yang kami bawa. Baju itu terasa basah oleh keringat dan gerimis hujan yang bercampur jadi satu. Basahnya baju itulah yang membuat perut kami mulai lapar. Dan kami memutuskan untuk makan terlebih dulu sebelum melanjutkan pencarian terhadap suluk ghaib. Kami makan bakso dengan lontong sembari melepaskan lelah. Setelah rasa lelah itu mulai lenyap, kamipun kembali berjalan menyusuri beberapa kampung yang gelap tanpa lampu menuju ke Masjid Sunan Kalijaga.
Dari jauh, kami mendengar suara rebana dan jidor yang ditabuh bertalu-talu sembari melantunkan pujian dan shalawat pada Nabi Besar SAW. Terus terang saja, hatiku tergetar mendengar lantunan pujian tersebut. Suara jidor yang ditabuh dengan keras seolah mengguncang hatiku. Begitu sampai di Masjid Sunan Kalijaga, kami pun langsung mengambil air wudlu dan shalat sunah 2 rakaat dan melanjutkan dengan shalat Isya.
Terasa nikmat bisa shalat di masjid Sunan Kalijaga yang juga salah satu penyebar agama Islam di tanah Jawa itu. Kami seakan-akan merasakan beratnya perjuangan Sunan Kalijaga dalam syiar agama Islam. Setelah beberapa saat berada di dalam masjid, kami pun berniat untuk meneruskan perjalanan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga. Tetapi, belum melangkah ke luar masjid, tiba-tiba hujan mengguyur cukup deras. Kami pun beristirahat sembari menunggu hujan reda.
Begitu hujan reda, kami melangkahkan kaki ke makam Sunan Kalijaga. Namun sebelumnya, kami sempatkan untuk minum segelas kopi guna menghangatkan tubuh. “Panjenengan saking pundi mas? (Anda dari mana mas?),” demikian tanya si penjual kopi ketika melihatku yang mengenakan sorjan (pakaian jawa) sambil membuatkan kopi. Saya menjawab bahwa kami berdua dari Surabaya. “Biasanipun menawi rawuh dhateng makam Sunan Kalijaga namung tiang 2-5, tiang meniku kagungan kemampuan spiritual,” kata si penjual kopi itu sembari menyuguhkannya pada kami.
“Wah…bapak meniko saged kemawon, kulo meniko mboten saged menopo-menopo kok pak,” ujarku sembari meminum kopi. Aku merasa yakin bahwa bapak penjual kopi tersebut juga memiliki ilmu yang tinggi sehingga bisa ‘membaca’ apa yang akan kami lakukan di kota Demak itu.
Setelah berbincang sekitar 1/2 jam dengan si penjual kopi,kamipun langsung melangkahkan kaki menuju ke makam Sunan Kalijaga. Di areal makam tersebut dipenuhi dengan orang-orang yang berziarah. Kami pun diantara para pengunjung itu yang khusuk memanjatkan doa untuk sang Sunan. Kami melakukan meditasi singkat di areal makam tersebut.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Kami harus melanjutkan perjalanan pencarian suluk ghaib tersebut. Dan tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Agung Demak. Kembali, kami harus berjalan sejauh 4 kilometer menuju ke Masjid Agung Demak dari areal Makam Sunan Kalijaga. Jalanan yang basah menjadi saksi langkah kaki kami.
Beberapa saat lamanya berjalan, akhirnya kami sampai ke Masjid Agung Demak. Di areal tersebut telah banyak orang yang tidur-tiduran di emperan masjid. Kembali kami melepaskan lelah sambil menunggu waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB dimana biasanya Masjid Agung Demak dibuka khusus saat Maulid Nabi. Dan tepat pada pukul 24.00 WIB, bedug masjid Agung Demak ditabuh. Seiring dengan itu, masjid pun dibuka sehingga kami memutuskan untuk mengambil air wudlu guna menunaikan shalat.
Aku melakukan shalat sunah 2 rakaat tahiyatul masjid dan shalat hajat, tepat di sebelah tiang buatan Sunan Kalijaga. Suasana dalam masjid terkesan sangat sakral. Seusai shalat, aku melanjutkan dengan meditasi. Dalam meditasi itulah aku mendengarkan pitutur ghaib tentang beraneka hal dalam kehidupan yang harus dilalui. Disamping itu, aku mendapatkan ‘ilmu’ yang sangat berguna bagi kehidupanku. Sedangkan temanku mendapatkan sebuah cemeti ghaib. Aku sangat puas dalam perjalanan tersebut karena banyak peristiwa di luar nalar yang terjadi.
Membelah Kabut Trowulan
12 Mar 2008 4 Komentar
Mencari jati diri adalah kewajiban seorang salik. Proses pencarian jati diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses itu sangatlah panjang dan penuh ‘kerikil tajam’. Rahasia demi rahasia terkuak satu per satu. Itulah yang membuatku untuk mencari dan mencari tak pernah berhenti.
Gelap malam mulai merayap. Beberapa teman mengajakku untuk melakukan ritual proses pencarian jati diri. Hatiku yang mulai sedari siang hari terasa hampa, segera saja kuiyakan ajakan itu. Kami berangkat ke Siti Inggil di Trowulan-Mojokerto dengan mengendarai mobil pick-up. Karena jumlah kami ada lima orang, maka harus ada yang rela duduk di bak pick-up belakang.
Aku memilih untuk duduk di bak pick-up belakang bersama beberapa teman antara lain Hastu dan Wiji. Sedangkan di depan duduk Feri dan Atim selaku sopir. Saat memasuki kota Mojokerto, hatiku senantiasa berdebar-debar. Seolah-olah di benak yang terdalam ada sesuatu hal yang cukup membuat hatiku girang. Entah apa itu aku sendiri tidak tahu.
Mobil panther pick-up hitam membelah malam dan ketika keluar dari kota Mojokerto, kami disambut kabut Trowulan yang sangat tebal. Kabut tebal itu tidak merontokkan semangat kami untuk tetap meneruskan perjalanan. Kabut-kabut itu seperti teman yang senantiasa memandu kemana kami harus melakukan proses pencarian diri itu.
Mobil terus melaju dan memasuki areal Maha Vihara Majapahit. Daerah pedesaan mulai menyapa kami. Mobilpun terhenti di areal Siti Inggil. Sebelum melakukan pendakian spiritual, lebih dulu kami makan dan minum kopi sambil beristirahat sebentar untuk melepas lelah dari perjalanan yang memakan waktu 1,5 jam.
Selesai beristirahat, saatnya kami memulai pendakian spiritual. Kami lantas menuju ke areal panembah Gusti Allah. Aku tidak tahu apa namanya areal itu, yang jelas sebelum memasuki areal makam Raden Wijaya (Raja Majapahit pertama) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana, kita diwajibkan untuk melakukan panembah terlebih dulu pada GUSTI ALLAH di sebuah areal yang tinggi. Di areal itu, kita hanya duduk bertafakur (meminjam istilah Islam) dan memuji keberadaan GUSTI ALLAH.
Saat duduk dalam kepasrahan itulah, aku sudah tidak ingat lagi urusan kantor, urusan keluarga apalagi urusan hutang. Aku merasa bahwa GUSTI ALLAH begitu dekat denganku. Aku berada dalam rengkuhanNYA. Tak lagi kudengar kata-kata orang berbicara, meski di sekitar tempat tersebut banyak orang yang berbicara dengan suara yang keras. Yang kutemui hanyalah damai dan sejahtera.
Ketika aku berada dalam keadaan hening itu, lamat-lamat terdengarlah suara kaki kuda yang berjalan ke arahku. Tetapi karena tekadku untuk memuji GUSTI ALLAH teramat besar, tak kuhiraukan suara itu. Suara itupun menghilang. Saking asyiknya duduk sambil manembah, tak terasa aku sudah duduk di tempat itu selama 1,5 jam. Dan kulihat teman-teman yang duduk di sebelahku sudah tidak ada lagi. Hanya aku seorang diri. Kunikmati keadaan itu. Yah…memang kadang-kadang seorang manusia perlu memiliki waktu untuk sendiri.
Begitu selesai manembah, kami pun duduk di pendopo Siti Inggil untuk menunggu tanda-tanda alam bahwa kami boleh memasuki areal makam Raden Wijaya. Tanda itupun akhirnya aku dapatkan. Saat memejamkan mata sejenak, aku melihat sorot cahaya yang begitu terang dari dalam areal makam. Seketika, aku ajak teman-teman untuk memasuki areal makam. Di lokasi areal makam yang cukup luas itu, kami duduk untuk meminta izin GUSTI ALLAH agar diperkenankan nyekar. Dalam proses nyekar itu, aku mendengar suara ghaib yang menasehati aku. Usai nyekar, kamipun minum dari sumber mata air yang ada di Siti Inggil dan meneruskan perjalanan ke areal makam Tribuana Tungga Dewi.
Areal makam ataupun petilasan Tribuana Tungga Dewi cukup jauh dari Siti Inggil sekitar 10 Km dan terletak di tengah-tengah sawah. Kami pun masuk dan semedi di tempat itu. Aku tidak lagi mendengar suara-suara ghaib di areal itu. Saat melakukan meditasi itulah, aku tidak kuat menyangga tubuhku sendiri.
Dalam posisi duduk itu, aku pun tergeletak. Saat tergeletak itulah, aku yang masih dalam posisi duduk bersila menengadah ke langit. Dan kulihat sinar yang begitu terang di atas langit. Aku tak peduli sinar apa itu. Yang jelas, aku selami saja keberadaan sinar itu. Dan semakin kuselami sinar terang itu, hatiku pun semakin tenang. Tiba-tiba terasa ada tangan yang membelai rambutku. Belaian itupun sangat lembut. Tapi ketika aku tersentak, tak kulihat lagi tangan itu.
Pengalaman spiritual itu alhamdulillah semakin menambah wawasanku bahwa GUSTI ALLAH itu maha besar, maha suci, maha mendengar, maha lembut dan sejuta MAHA untuk GUSTI Ingkang Akaryo Jagad.


Komentar