Mencermati Hidayah Pangeran Panggung

Petunjuk GUSTI ALLAH itu datang tanpa memandang siapapun. Entah dia kaya raya, miskin, tua maupun muda, jika petunjuk dan hidayah itu sudah datang, tiada satu makhluk pun yang bisa menghalanginya. Ketika petunjuk dan hidayah itu sudah datang, maka salah satu tandanya yaitu orang tersebut akan mulai menempuh lelaku sesuai petunjuk dan hidayah yang diterimanya.

Demikian pula Pangeran Panggung yang hidup jauh setelah eranya Syekh Siti Jenar. Namun hidayah yang diterimanya justru membenarkan ajaran dari Syekh Siti Jenar. Pemikiran Pangeran Panggung itu tercetus lewat serat Suluk Malang Sumirang. Apa saja pemikiran dari Pangeran Panggung dalam suluknya?

Menurut Pangeran Panggung,”….Saya mencari ilmu sejati yang berhubungan langsung dengan asal dan tujuan hidup, dan itu saya pelajari melalui tanajjul tarki. Menurut saya, untuk mengharapkan hidayah hanyalah bisa didapat dengan kesejatian ilmu. Demi kesentausaan hati menggapai gejolak jiwa, saya tidak ingin terjebak dalam syariat.”

“Jika saya terjebak dalam syariat, maka seperti burung sudah bergerak, akan tetapi mendapatkan pikiran yang salah. Karena perbuatan salah dalam syariat adalah pada kesalahpahaman dalam memahami larangan. Bagi saya kesejatian ilmu itulah yang seharusnya dicari dan disesuaikan dengan ilmu kehidupan. Kebanyakan manusia itu, jika sudah sampai pada janji maka hatinya menjadi khawatir, wataknya selalu was-was…senantiasa takut gagal….Alam di bawah kolong langit, di atas hamparan bumi dan semua isi di dalamnya hanyalah ciptaan Yang Esa, tidak ada keraguan. Lahir batin harus bulat, mantap berpegang pada tekad.” (Serat Suluk Malang Sumirang, Pupuh 1-2).

“Yang membuat kita paham akan diri kita, Pertama tahu akan datang ajal, karena itu tahu jalan kemuliaannya, Kedua, tahu darimana asalnya ada kita ini sesungguhnya, berasal dari tidak ada. Kehendak-Nya pasti jadi, dan kejadian itu sendiri menjadi misal. Wujud mustahil pertandanya sebagai cermin yang bersih merata ke seluruh alam. Yang pasti dzatnya kosong, sekali dan tidak ada lagi. Dan janganlah menyombongkan diri, bersikaplah menerima jika belum berhasil. Semua itu kehendak Sang Maha Pencipta. Sebagai makhluk ciptaan, manusia didunia ini hanya satu repotnya. Yaitu tidak berwenang berkehendak, dan hanya pasrah kepada kehendak Allah.”

“Segala yang tercipta terdiri dari jasad dan sukma, serta badan dan nyawa. Itulah sarana utama, yakni cahaya, roh, dan jasad. Yang tidak tahu dua hal itu akan sangat menyesal. Hanya satu ilmunya, melampaui Sang Utusan. Namun bagi yang ilmunya masih dangkal akan mustahil mencapai kebenaran, dan manunggal dengan Allah. Dalam hidup ini, ia tidak bisa mengaku diri sebagai Allah, Sukma Yang Maha Hidup. Kufur jika menyebut diri sebagai Allah. Kufur juga jika menyamakan hidupnya dengan Hidup Sang Sukma, karena sukma itu adalah Allah.” .

”Waktu shalat merupakan pilihan waktu yang sesungguhnya berangkat dari ilmu yang hebat. Mengertikah Anda, mengapa shalat dzuhur empat raka’at? Itu disebabkan kita manusia diciptakan dengan dua kaki dan dua tangan. Sedang shalat ‘Ashar empat raka’at juga, adalah kejadian bersatunya dada dengan Telaga al-Kautsar dengan punggung kanan dan kiri. Shalat Maghrib itu tiga raka’at, karena kita memiliki dua lubang hidung dan satu lubang mulut. Adapun shalat ‘Isya’ enjadi empat raka’at karena adanya dua telinga dan dua buah mata. Adapun shalat Subuh, mengapa dua raka’at adalah perlambang dari kejadian badan dan roh kehidupan. Sedangkan shalat tarawih adalah sunnah muakkad yang tidak boleh ditinggalkan dua raka’atnya oleh yang melakukan, menjadi perlambang tumbuhnya alis kanan dan kiri.”

“Adapun waktu yang lima, bahwa masing-masing berbeda-beda yang memilikinya. Shalat Subuh, yang memiliki adalah Nabi Adam. Ketika diturunkan dari surga mulia, berpisah dengan istrinya Hawa menjadi sedih karena tidak ada kawan. Lalu ada wahyu dari melalui malaikat Jibril yang mengemban perintah Tuhan kepada Nabi Adam, “Terimalah cobaan Tuhan, shalat Subuhlah dua raka’at”. Maka Nabi Adampun siap melaksanakannya. Ketika Nabi Adam melaksanakan shalat Subuh pada pagi harinya, ketika salam. Telah mendapati istrinya berada dibelakangnya, sambil menjawab salam. Shalat Dzuhur dimaksudkan ketika Kanjeng Nabi Ibrahim pada zaman kuno mendapatkan cobaan besar, dimasukkan ke dalam api hendak dihukum bakar. Ketika itu Nabi Ibrahim mendapat wahyu ilahi, disuruh untuk melaksanakan shalat Dzuhur empat raka’at. Nabi Ibrahim melaksanakan shalat, api padam seketika. Adapun shalat Ashar, dimaksudkan ketika Nabi Yunus sedang naik perahu dimakan ikan besar. Nabi Yunus merasakan kesusahan ketika berada di dalam perut ikan. Waktu itu terdapat wahyu Ilahi, Nabi Yunus diperintahkan melaksanakan shalat Ashar empat raka’at. Nabi Yunus segera melaksanakan, dan ikan itu tidak mematikannya. Malah ikan itu mati, kemudian Nabi Yunus keluar dari perut ikan. Sedangkan shalat Maghrib pada zaman kuno yang memulainya adalah Nabi Nuh. Ketika musibah banjir bandang sejagad, Nabi Nuh bertaubat merasa bersalah. Dia diterima taubatnya disuruh mengerjakan shalat. Kemudian Nabi Nuh melaksanakan shalat Maghrib tiga raka’at, maka banjirpun surut seketika. Shalat ‘Isya sesungguhnya Nabi Isa yang memulainya. Ketika kalah perang melawan Raja Harkiyah (Juga disebut Raja Herodes, atasan Gubernur Pontius Pilatus) semua kaumnya bingung tidak tahu utara, selatan, barat, timur dan tengah. Nabi Isa merasa susah, dan tidak lama kemudian datang malaikat Jibril membawa wahyu dengan uluk salam. Nabi Isa diperintahkan melaksanakan shalat ‘Isya. Nabi Isa menyanggupinya, dan semua kaumnya mengikutinya, dan malaikat Jibril berkata, “Aku yang membalaskan kepada Pendeta Balhum.”

“Menurut pemahaman saya, sesuai petunjuk Syekh Siti Jenar dahulu, anasir itu ada empat yang berupa anasir batin dan ansir lahir. Pertama, anasir Gusti. Perlu dipahami dengan baik dzat, sifat, asma dan af’al (perbuatan) kedudukannya dalam rasa. Dzat maksudnya adalah bahwa diri manusia dan apapun yang kemerlap di dunia ini tidak ada yang memiliki kecuali Tuhan Yang Maha Tinggi, yang besar atau yang kecil adalah milik Allah semua. Ia tidak memiliki hidupnya sendiri. Hanya Allah yang Hidup, yang Tunggal. Adapun sifat sesungguhnya segala wujud yang kelihatan yang besar atau kecil, seisi bumi dan langit tidak ada yang memiliki hanya Allah Tuhan Yang Maha Agung. Adapun asma sesungguhnya, nama semua ciptaan seluruh isi bumi adalah milik Tuhan Allah Yang Maha Lebih Yang Maha Memiliki Nama. Sedangkan artinya af’al adalah seluruh gerak dan perbuatan yang kelihatan dari seluruh makhluk isi bumi ini adalah tidak lain dari perbuatan Allah Yang Maha Tinggi, demikian maksud anasir Gusti.”

“Anasir roh, ada empat perinciannya yang berwujud ilmu yang dinamai cahaya persaksian (nur syuhud). Maksudnya adalah sebagai berikut : pertama, yang disebut wujud sesungguhnya adalah hidup sejati atau amnusia sejati seperti pertempuran yang masih perawan itulah yang dimaksud badarullah yang sebenarnya. Kedua, yang disebut ilmu adalah pengetahuan batin yang menjadi nur atau cahaya kehidupan atau roh idhafi, cahaya terang menyilaukan seperti bintang kejora. Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin kejora. Ketiga, yang dimaksud syuhud adalah kehendak batin tatkala memusatkan perhatian terutama ketika mengucapkan takbir. Demikianlah penjelasan tentang anasir roh, percayalah kepada kecenderungan hati.”

“Anasir manusia maksudnya hendaklah dipahami bahwa manusia itu terdiri dari bumi, api, angin dan air. Bumi itu menjadi jasad, api menjadi cahaya yang bersinar, angin menjadi napas keluar masuk, air, menjadi darah. Keempatnya bergerak tarik menarik secara ghaib.”

Setetes Air

Jentik-Jentik Hati
Arungi Hidup nan tak Pasti
Bergulat Goda dan Coba
Membuat Hati Selalu Ternoda
Lambat namun pasti, Noda itu kian Menebal
Sapuan Hati tak Mampu Bersihkan Diri dalam Sehari

Siapakah yang mampu menuntun Jiwa
Kalbu penuh sesak dengan Tuntutan Hidup
Yang kuperlukan hanyalah setetes air
Ya, cukuplah setetes air kerinduan
Tercucur dari rahmat Sang Maha Hidup

Oh…Jiwaku tak Pasti
Menunggu tetes demi tetes air kehidupan
Setiap hari, tiap waktu hatiku merindukan pertemuan
Guna bisa raih setetes air itu
Ya…hanya setetes saja,
Tak lebih tak kurang kurasa itu cukup
Menyapu debu-debu hati yang kian membeku

Duh…Gusti ALLAH nan Maha Sakti
Duh…Sang Hyang Manon
Duh…Sang Maha Urip
Aku perlu setetes air itu
Meski setetes, Tapi Bisa Basahi kerongkongan jiwa
Dan kerongkongan jiwaku yang telah kering

Semua Kembali dalam Diri

Setelah sekian lama melakukan perjalanan untuk menemukan Jati Diri, ternyata semuanya kembali ke diri sendiri. Berbagai pengalaman yang telah aku rasakan, ternyata semuanya berbekas ke langkah jiwaku. Jawaban yang kutemui dalam hati ternyata berbunyi,”Semua yang kamu cari ada dalam dirimu sendiri”.

Kata-kata itu seakan menyadarkan aku setelah sekian lamanya aku terlena dari perjalanan satu ke perjalanan lainnya. Seolah aku terbuai dengan deru nafsu untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya. Padahal, hawa nafsu itulah yang harus dikurangi dan dilenyapkan dari jiwa ini.

Itulah yang membuatku tersentak dan tersadar. Akupun akhirnya menjadi sadar, bahwa sebuah ibadah dengan perjalanan itu ternyata dinilai oleh Manusia semata. Orang hanya tahu kita melakukan perjalanan. Padahal, aku menyadari tidak butuh penilaian apapun dari orang lain. Yang aku butuhkan adalah menemukan kembali jalanNYA dan bisa kembali mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Semuanya itu ternyata kembali ke dalam diri. Kalau kita melakukan perjalanan ke dalam diri, maka tidak ada orang yang mengetahuinya, kecuali kita dan ALLAH sendiri. Dalam diri ini tersimpan istana-istana dari GUSTI ALLAH. Banyak kekayaan dalam diri ini yang tidak kutemukan di tempat-tempat yang telah kukunjungi.

Alhamdulillah. Itulah kata yang pertama kali meluncur dari bibirku ketika aku menemukan “mutiara” terpendam dalam diriku yang selama ini tidak pernah kujumpai.  Ternyata TUHAN telah menunjukkan pada diriku keberadaanNYA.

Menyusuri Jejak Tiga Kerajaan Besar

Jawa Timur merupakan pusat dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa.
Hampir 75 persen kerajaan yang ada di Jawa, terletak di Jawa Timur.
Salah satu kerajaan tertua yang ada di Jawa Timur adalah Medang
Kamolan. Sedangkan beberapa kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur
adalah Medang Kamolan, Kahuripan, Kalingga, Singosari, Daha Kediri dan
yang paling termuda adalah Majapahit.

Menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu adalah sebuah pengalaman yang
mengasyikkan. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu. Keuntungan tersebut antara lain, mampu
mempelajari sejarah dari kerajaan tersebut dan mengenal raja-raja yang
pernah ada di tanah Jawa khususnya Jawa Timur, serta menjadi titik
perenungan kita untuk mengetahui diri sejati kita. Karena bagaimanapun
nenek moyang kita juga pernah hidup di jaman kerajaan-kerajaan itu.

Kami jauh-jauh hari sudah sepakat untuk melakukan penelusuran di tiga
kerajaan besar di Jawa Timur yang sudah ada yakni kerajaan Kahuripan,
Kediri dan Majapahit. Tiga kerajaan itulah yang nyata-nyata pernah
menguasai nusantara. Kami berencana untuk melakukan perjalanan tersebut dalam waktu satu malam. Situs sejarah kerajaan Kahuripan berada di Pegunungan Penanggungan tepatnya di pemandian Jolotundo.
Pemandian Jolotundo merupakan situs bersejarah karena tempat tersebut merupakan tempat Prabu Airlangga bertapa dan meninggalkan hiruk pikuk dunia, setelah itu beliau mengakhiri lelakunya itu dengan mandi di kolam tersebut. Oleh karena itu, pemandian Jolotundo tersebut disebut juga dengan Padusan Prabu Airlangga.

Sebelumnya kami berencana untuk melakukan penelusuran di tiga kerajaan tersebut dengan beberapa orang yakni, Hastu, Widji, Feri, Pak Sutrisno, Aku dan Atim. Namun, entah mengapa beberapa orang membatalkan niatnya untuk berangkat. Widji batal berangkat karena istrinya tidak mengijinkan. Pak Sutrisno juga membatalkan niatnya untuk berangkat karena ada urusan pengambilan duit. Kalau hendak melakukan ritual seperti itu, maka urusan dunia harus dilepaskan terlebih dulu.

Akhirnya, hanya kami berempat saja yang memutuskan untuk terus
berangkat. Meski aral melintang, tidak menghentikan langkah kami untuk
tetap melakukan ritual menyusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur
tersebut. Aku, Hastu, Feri dan Atim pun membulatkan tekad untuk
melakukan ritual tersebut. Atim hanya sebatas sopir. Jadi ia tidak ikut
ritual dan hanya menunggu di mobil saja.

Perjalanan pun kami mulai pukul 18.30 WIB. Mobil pun langsung menuju ke wilayah pegunungan Penanggungan. Sesampainya di lokasi waktu
menunjukkan pukul 20.30 WIB, kami langsung disambut oleh hujan deras.
Kami (aku, Hastu dan Feri) memutuskan untuk menunggu hujan reda sebelum masuk ke areal padusan Prabu Airlangga. Saat menunggu tersebut, aku melihat ada binatang Walang Kadung, sedangkan Feri melihat ada binatang Kolo Monggo. Dari pandangan batinku, binatang-binatang tersebut merupakan pertanda dari GUSTI ALLAH. Walang Kadung artinya, Barang kang dadi pepalang nanging wis kadung (Sesuatu yang menjadi penghalang tetapi sudah terlanjur).

Begitu melihat binatang tersebut, mulutku langsung
mengucap,”Ingat-ingat ya, kita akan menghadapi tiga halangan yang
besar dalam ritual kita.” Halangan yang pertama adalah hujan.
Sedangkan Kolo Monggo menurut pandangan batinku adalah Kolo = saat,
Monggo = Masuk/Silakan/Ritual. Jadi Kolo Monggo artinya adalah saatnya untuk masuk dan melakukan ritual.

Begitu melihat tanda-tanda tersebut, aku dan teman-teman segera
bergegas untuk masuk ke situs padusan Sang Prabu Airlangga tersebut
meski hujan deras masih mengguyur. Kami pun menaiki bebatuan dan
membakar dupa terlebih dulu untuk meminta ijin dan perlindungan GUSTI
ALLAH sebagai penguasa alam agar tidak terjadi apapun yang menghalangi ritual kami untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH sembari menyusuri sejarah. Setelah melakukan semedi beberapa menit, kami pun melanjutkan ritual dengan mandi di padusan Prabu Airlangga.
Dinginnya air pegunungan Penanggungan di malam hari itu tidak
menghalangi niatku bersama teman-teman. Kami pun mandi di air yang
terasa sedingin es. Selesai mandi, kami melanjutkan dengan semedi di
tepi kolam. Suasana haru terasa di benakku. Pasalnya, hujan deras yang
mengguyur tersebut langsung berhenti begitu kami melakukan ritual.
Artinya, memang hujan tersebut menjadi pepalang. Kami serasa diuji,
apakah terus melakukan ritual meski kondisi hujan. Dan ketika kami
memutuskan untuk terus melakukan ritual, hujan pun berhenti seolah
menyimak apa yang kami lakukan. Selesai semedi, kami pun segera
mengakhiri ritual di kerajaan kahuripan dan bersiap-siap untuk menuju
ke Kediri ke situs tempat moksa-nya Sri Aji Joyoboyo.

Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo

Mobil berangkat dari Jolotundo pukul 22.30 WIB dan sampai di desa
Pamenang Kediri pukul 00.10 WIB. Laju mobil kami itu terasa bak kilat.
Sesampainya di Pamenang, kami langsung menuju ke air sumber Tirto
Kamandanu untuk mandi dan bersuci terlebih dulu. Hanya Hastu yang tidak mandi. Dari wajahnya, aku melihat bahwa dia merasa asing dan takut di tempat yang belum pernah dikenalnya. Artinya, hanya aku dan Feri yang mandi dan melanjutkan semedi di petilasan Joyoboyo Srigati.

Ketika tengah asyik-asyiknya semedi, hujan pun turun dan mengguyur bumi Pamenang. Namun, aku dan Feri tidak bergeming sedikitpun. Kami terus melakukan semedi. Seusai melakukan semedi di lokasi tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo yang
berjarak sekitar 1-2 km dari Joyoboyo Srigati. Sembari melakukan
perjalanan, aku ngomong ke teman-teman,”Hujan inilah pepalang yang
kedua.”

Sesudah memarkir mobil, kami pun berjalan sekitar 200 meter. Saat
berjalan itu, Hastu mengatakan,”Mas nanti kalau ada apa-apa terhadap
saya, tolongin saya ya…” “Ada apa tu…, Kalau kamu memiliki niatan
baik, semuanya pasti berakhir baik. Tapi kalau kamu mempunyai niatan
buruk, maka hal terburuk yang akan kamu terima,” sergah Feri dengan
nada yang sedikit membentak. Sedangkan aku hanya diam saja menikmati ritual tersebut.

Sesampainya di Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo, kami duduk di pendopo terlebih dulu. Dalam duduk diam itu, aku mendengar kata-kata ghaib yang menyatakan bahwa kami harus memutari Pamoksan itu tujuh kali sebelum akhirnya masuk ke Pamoksan. Hal itupun aku lakukan bersama Feri, sedangkan Hastu hanya melakukan beberapa kali putaran saja. Lantai di Pamoksan cukup basah. Namun aku tidak pedulikan hal itu. Aku duduk bersama Feri di Pamoksan sembari meminta ijin pada GUSTI ALLAH agar diperbolehkan nyekar Sri Aji Mapanji Joyoboyo. Alhamdulillah hal itupun akhirnya menjadi kenyataan. Aku bertemu Sang Prabu Sri Aji Mapanji Joyoboyo meski lewat pandangan batin. Beliau memberi pitutur banyak.

Selesai melakukan ritual di Pamoksan tersebut, aku melanjutkan ke
petilasan Resi Mayangkara yang lokasinya hanya 10 meter dari Pamoksan. Di petilasan Resi Mayangkara tersebut cukup hening sehingga aku dan Feri dapat melakukan meditasi dengan cepat sembari nyekar Resi Mayangkara. Seusai dari petilasan Resi Mayangkara, kami pun melanjutkan perjalanan di lokasi yang ketiga yakni ke Siti Inggil yang merupakan petilasan Prabu Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Siti Inggil

Kami meninggalkan desa Pamenang Kediri sekitar pukul 02.30 WIB.
Mobilpun kembali bergerak cukup cepat. Kulihat Feri dan Hastu tertidur
pulas di dalam mobil. Sedangkan aku masih terus terjaga hingga tiba di
Siti Inggil. Sesampainya di Siti Inggil, Feri pun terbangun dan
langsung ikut denganku melakukan ritual. Sementara Hastu memilih untuk
tetap tidur di dalam mobil.

Setelah melakukan semedi di Siti Inggil, kami berziarah ke petilasan
Raden Wijaya. Di tempat tersebut, aku kembali mendengarkan kata-kata
ghaib yang menyatakan terimakasih pada kami bahwa kami sudah berhasil menelusuri tiga kerajaan besar dalam waktu satu malam. Sekeluarnya dari Areal petilasan Raden Wijaya, Aku kembali ngomong ke teman-temanku bahwa pepalang ketiga yang kecil tetapi memiliki arti yang cukup besar adalah Ngantuk. Artinya, selama melakukan ritual, kita tidak boleh tidur. Karena namanya saja lelaku, maka orang yang tidur bukanlah orang lelaku. Itulah pelajaran yang kami terima selama menelusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur.

Berziarah di Makam Sang Penakluk Pulau Jawa

Syech Subakir, tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya sosok tersebut. Tetapi Syech Subakir menjadi tokoh pertama Islam yang datang ke Pulau Jawa, jauh sebelum adanya para Walisongo maupun eranya syech Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak maupun Syech Maulana Magribi. Konon dahulu kala, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara yang sangat angker. Datanglah seorang syech dari Persia yang bernama Syech Subakir.

Angkernya pulau Jawa itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syech Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Kedatangan sang syech waktu itu boleh dikatakan sia-sia. Pasalnya, sang syech mengetahui sendiri bahwa masyarakat di tanah Jawa sudah menganut agama tauhid. Orang Islam menyebut Tuhan dengan nama Allah, sedangkan orang Jawa ketika itu menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Pengeran (Tuhan sebagai tempat untuk dingengeri).

Saat itulah sang Syech Subakir merasa bahwa agama Islam maupun apapun yang bersifat tauhid (hanya mengesakan Tuhan) adalah benar, walaupun apa namanya agama tersebut. Lantaran sudah menganut agama tauhid, maka Syech Subakir berniat untuk pulang ke Persia. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.

Akhirnya, Syech Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat. Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil. Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syech Subakir. Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.

Tidak ada yang tahu pasti dimana makam syech Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Tetapi ada yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa. Yang mana yang benar, Wallahualam.
indonesia_mtmerapi.jpg
Makam Di Beji Benowo

Sebuah makam di desa Beji Benowo, disebut-sebut sebagai makam syech Subakir. Makam tersebut terletak di dalam areal sebuah Pondok Pesantren. Jika kita mengunjungi makam tersebut, maka kita akan membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding yakni, Sabar, Temenan (Sunguh-sungguh), Ngalah (mengalah), Neriman (menerima pemberian Tuhan dengan Ikhlas). Tulisan tersebut terlihat biasa saja, tetapi mengandung arti yang sangat dalam.

Tulisan-tulisan di tembok masjid Pondok tersebut melambangkan sifat yang harus dimiliki manusia jika ingin dekat dengan Gusti Allah. Kami empat orang, Aku, Fery, Hastu dan Widji jauh hari sudah memiliki keinginan untuk berkunjung ke makam tersebut. Dan alhamdulillah akhirnya keinginan itupun menjadi kenyataan.

Setelah membaca tulisan-tulisan di tembok masjid pondok pesantren yang belum jadi itu, kami masuk ke dalam areal pondok yang saat itu sunyi sepi. Maklum, kami berziarah pada pukul 24.00 Wib. Sampailah kami di sebuah areal makam yang hanya terdapat sebuah makam di luar dan tiga makam di dalam sebuah rumah.

Ketika memasuki pintu makam, kita harus membungkuk lantaran pintunya dibuat rendah sehingga mengharuskan siapapun yang memasukinya haruslah membungkukkan badan. Satu makam diluar disebut-sebut sebagai makam kyai pengelola pondok pesantren tersebut. Sementara tiga makam di dalam adalah makam Syech Subakir dan dua makam istrinya. Makam Syech Subakir dan para istrinya itu ditutupi oleh kain putih sehingga untuk melihatnya, kita harus melongok dan membuka tabir kainnya.

Kami melakukan semedi di areal tersebut untuk beberapa lama. Ketentraman merasuki jiwaku saat melakukan semedi. Sementara teman-temanku sudah keluar semua, aku masih tetap bertahan sendirian di dalam makam tersebut memohon pada Tuhan agar mengampuni dosa-dosa Syech Subakir dan menerima semua amalannya.

Suara-suara ghaib tiba-tiba muncul dan mengajak dialog aku. Tak ada perasaan takut pada diriku. Akupun langsung ‘membunuh’ otakku agar tidak ikut bicara. Aku mulai bicara melalui rasa. Kami berbincang-bincang melalui mata batin. Beraneka pitutur luhur aku dapatkan sebagai sangu untuk mengarungi hidup di alam dunia yang fana ini. Alhamdulillah, begitulah kata-kata yang meluncur dari bibir kami karena sudah berziarah di makam Sang Penakluk Pulau Jawa.(*)

Previous Older Entries

Oktober 2014
S S R K J S M
« Nov    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip Tulisan

Tamu

  • 30,848 Orang
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.