Setetes Air

Jentik-Jentik Hati
Arungi Hidup nan tak Pasti
Bergulat Goda dan Coba
Membuat Hati Selalu Ternoda
Lambat namun pasti, Noda itu kian Menebal
Sapuan Hati tak Mampu Bersihkan Diri dalam Sehari

Siapakah yang mampu menuntun Jiwa
Kalbu penuh sesak dengan Tuntutan Hidup
Yang kuperlukan hanyalah setetes air
Ya, cukuplah setetes air kerinduan
Tercucur dari rahmat Sang Maha Hidup

Oh…Jiwaku tak Pasti
Menunggu tetes demi tetes air kehidupan
Setiap hari, tiap waktu hatiku merindukan pertemuan
Guna bisa raih setetes air itu
Ya…hanya setetes saja,
Tak lebih tak kurang kurasa itu cukup
Menyapu debu-debu hati yang kian membeku

Duh…Gusti ALLAH nan Maha Sakti
Duh…Sang Hyang Manon
Duh…Sang Maha Urip
Aku perlu setetes air itu
Meski setetes, Tapi Bisa Basahi kerongkongan jiwa
Dan kerongkongan jiwaku yang telah kering

Semua Kembali dalam Diri

Setelah sekian lama melakukan perjalanan untuk menemukan Jati Diri, ternyata semuanya kembali ke diri sendiri. Berbagai pengalaman yang telah aku rasakan, ternyata semuanya berbekas ke langkah jiwaku. Jawaban yang kutemui dalam hati ternyata berbunyi,”Semua yang kamu cari ada dalam dirimu sendiri”.

Kata-kata itu seakan menyadarkan aku setelah sekian lamanya aku terlena dari perjalanan satu ke perjalanan lainnya. Seolah aku terbuai dengan deru nafsu untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya. Padahal, hawa nafsu itulah yang harus dikurangi dan dilenyapkan dari jiwa ini.

Itulah yang membuatku tersentak dan tersadar. Akupun akhirnya menjadi sadar, bahwa sebuah ibadah dengan perjalanan itu ternyata dinilai oleh Manusia semata. Orang hanya tahu kita melakukan perjalanan. Padahal, aku menyadari tidak butuh penilaian apapun dari orang lain. Yang aku butuhkan adalah menemukan kembali jalanNYA dan bisa kembali mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH.

Semuanya itu ternyata kembali ke dalam diri. Kalau kita melakukan perjalanan ke dalam diri, maka tidak ada orang yang mengetahuinya, kecuali kita dan ALLAH sendiri. Dalam diri ini tersimpan istana-istana dari GUSTI ALLAH. Banyak kekayaan dalam diri ini yang tidak kutemukan di tempat-tempat yang telah kukunjungi.

Alhamdulillah. Itulah kata yang pertama kali meluncur dari bibirku ketika aku menemukan “mutiara” terpendam dalam diriku yang selama ini tidak pernah kujumpai.  Ternyata TUHAN telah menunjukkan pada diriku keberadaanNYA.

Menyusuri Jejak Tiga Kerajaan Besar

Jawa Timur merupakan pusat dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa.
Hampir 75 persen kerajaan yang ada di Jawa, terletak di Jawa Timur.
Salah satu kerajaan tertua yang ada di Jawa Timur adalah Medang
Kamolan. Sedangkan beberapa kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur
adalah Medang Kamolan, Kahuripan, Kalingga, Singosari, Daha Kediri dan
yang paling termuda adalah Majapahit.

Menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu adalah sebuah pengalaman yang
mengasyikkan. Banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusuri jejak kerajaan-kerajaan itu. Keuntungan tersebut antara lain, mampu
mempelajari sejarah dari kerajaan tersebut dan mengenal raja-raja yang
pernah ada di tanah Jawa khususnya Jawa Timur, serta menjadi titik
perenungan kita untuk mengetahui diri sejati kita. Karena bagaimanapun
nenek moyang kita juga pernah hidup di jaman kerajaan-kerajaan itu.

Kami jauh-jauh hari sudah sepakat untuk melakukan penelusuran di tiga
kerajaan besar di Jawa Timur yang sudah ada yakni kerajaan Kahuripan,
Kediri dan Majapahit. Tiga kerajaan itulah yang nyata-nyata pernah
menguasai nusantara. Kami berencana untuk melakukan perjalanan tersebut dalam waktu satu malam. Situs sejarah kerajaan Kahuripan berada di Pegunungan Penanggungan tepatnya di pemandian Jolotundo.
Pemandian Jolotundo merupakan situs bersejarah karena tempat tersebut merupakan tempat Prabu Airlangga bertapa dan meninggalkan hiruk pikuk dunia, setelah itu beliau mengakhiri lelakunya itu dengan mandi di kolam tersebut. Oleh karena itu, pemandian Jolotundo tersebut disebut juga dengan Padusan Prabu Airlangga.

Sebelumnya kami berencana untuk melakukan penelusuran di tiga kerajaan tersebut dengan beberapa orang yakni, Hastu, Widji, Feri, Pak Sutrisno, Aku dan Atim. Namun, entah mengapa beberapa orang membatalkan niatnya untuk berangkat. Widji batal berangkat karena istrinya tidak mengijinkan. Pak Sutrisno juga membatalkan niatnya untuk berangkat karena ada urusan pengambilan duit. Kalau hendak melakukan ritual seperti itu, maka urusan dunia harus dilepaskan terlebih dulu.

Akhirnya, hanya kami berempat saja yang memutuskan untuk terus
berangkat. Meski aral melintang, tidak menghentikan langkah kami untuk
tetap melakukan ritual menyusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur
tersebut. Aku, Hastu, Feri dan Atim pun membulatkan tekad untuk
melakukan ritual tersebut. Atim hanya sebatas sopir. Jadi ia tidak ikut
ritual dan hanya menunggu di mobil saja.

Perjalanan pun kami mulai pukul 18.30 WIB. Mobil pun langsung menuju ke wilayah pegunungan Penanggungan. Sesampainya di lokasi waktu
menunjukkan pukul 20.30 WIB, kami langsung disambut oleh hujan deras.
Kami (aku, Hastu dan Feri) memutuskan untuk menunggu hujan reda sebelum masuk ke areal padusan Prabu Airlangga. Saat menunggu tersebut, aku melihat ada binatang Walang Kadung, sedangkan Feri melihat ada binatang Kolo Monggo. Dari pandangan batinku, binatang-binatang tersebut merupakan pertanda dari GUSTI ALLAH. Walang Kadung artinya, Barang kang dadi pepalang nanging wis kadung (Sesuatu yang menjadi penghalang tetapi sudah terlanjur).

Begitu melihat binatang tersebut, mulutku langsung
mengucap,”Ingat-ingat ya, kita akan menghadapi tiga halangan yang
besar dalam ritual kita.” Halangan yang pertama adalah hujan.
Sedangkan Kolo Monggo menurut pandangan batinku adalah Kolo = saat,
Monggo = Masuk/Silakan/Ritual. Jadi Kolo Monggo artinya adalah saatnya untuk masuk dan melakukan ritual.

Begitu melihat tanda-tanda tersebut, aku dan teman-teman segera
bergegas untuk masuk ke situs padusan Sang Prabu Airlangga tersebut
meski hujan deras masih mengguyur. Kami pun menaiki bebatuan dan
membakar dupa terlebih dulu untuk meminta ijin dan perlindungan GUSTI
ALLAH sebagai penguasa alam agar tidak terjadi apapun yang menghalangi ritual kami untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH sembari menyusuri sejarah. Setelah melakukan semedi beberapa menit, kami pun melanjutkan ritual dengan mandi di padusan Prabu Airlangga.
Dinginnya air pegunungan Penanggungan di malam hari itu tidak
menghalangi niatku bersama teman-teman. Kami pun mandi di air yang
terasa sedingin es. Selesai mandi, kami melanjutkan dengan semedi di
tepi kolam. Suasana haru terasa di benakku. Pasalnya, hujan deras yang
mengguyur tersebut langsung berhenti begitu kami melakukan ritual.
Artinya, memang hujan tersebut menjadi pepalang. Kami serasa diuji,
apakah terus melakukan ritual meski kondisi hujan. Dan ketika kami
memutuskan untuk terus melakukan ritual, hujan pun berhenti seolah
menyimak apa yang kami lakukan. Selesai semedi, kami pun segera
mengakhiri ritual di kerajaan kahuripan dan bersiap-siap untuk menuju
ke Kediri ke situs tempat moksa-nya Sri Aji Joyoboyo.

Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo

Mobil berangkat dari Jolotundo pukul 22.30 WIB dan sampai di desa
Pamenang Kediri pukul 00.10 WIB. Laju mobil kami itu terasa bak kilat.
Sesampainya di Pamenang, kami langsung menuju ke air sumber Tirto
Kamandanu untuk mandi dan bersuci terlebih dulu. Hanya Hastu yang tidak mandi. Dari wajahnya, aku melihat bahwa dia merasa asing dan takut di tempat yang belum pernah dikenalnya. Artinya, hanya aku dan Feri yang mandi dan melanjutkan semedi di petilasan Joyoboyo Srigati.

Ketika tengah asyik-asyiknya semedi, hujan pun turun dan mengguyur bumi Pamenang. Namun, aku dan Feri tidak bergeming sedikitpun. Kami terus melakukan semedi. Seusai melakukan semedi di lokasi tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo yang
berjarak sekitar 1-2 km dari Joyoboyo Srigati. Sembari melakukan
perjalanan, aku ngomong ke teman-teman,”Hujan inilah pepalang yang
kedua.”

Sesudah memarkir mobil, kami pun berjalan sekitar 200 meter. Saat
berjalan itu, Hastu mengatakan,”Mas nanti kalau ada apa-apa terhadap
saya, tolongin saya ya…” “Ada apa tu…, Kalau kamu memiliki niatan
baik, semuanya pasti berakhir baik. Tapi kalau kamu mempunyai niatan
buruk, maka hal terburuk yang akan kamu terima,” sergah Feri dengan
nada yang sedikit membentak. Sedangkan aku hanya diam saja menikmati ritual tersebut.

Sesampainya di Pamoksan Sri Aji Mapanji Joyoboyo, kami duduk di pendopo terlebih dulu. Dalam duduk diam itu, aku mendengar kata-kata ghaib yang menyatakan bahwa kami harus memutari Pamoksan itu tujuh kali sebelum akhirnya masuk ke Pamoksan. Hal itupun aku lakukan bersama Feri, sedangkan Hastu hanya melakukan beberapa kali putaran saja. Lantai di Pamoksan cukup basah. Namun aku tidak pedulikan hal itu. Aku duduk bersama Feri di Pamoksan sembari meminta ijin pada GUSTI ALLAH agar diperbolehkan nyekar Sri Aji Mapanji Joyoboyo. Alhamdulillah hal itupun akhirnya menjadi kenyataan. Aku bertemu Sang Prabu Sri Aji Mapanji Joyoboyo meski lewat pandangan batin. Beliau memberi pitutur banyak.

Selesai melakukan ritual di Pamoksan tersebut, aku melanjutkan ke
petilasan Resi Mayangkara yang lokasinya hanya 10 meter dari Pamoksan. Di petilasan Resi Mayangkara tersebut cukup hening sehingga aku dan Feri dapat melakukan meditasi dengan cepat sembari nyekar Resi Mayangkara. Seusai dari petilasan Resi Mayangkara, kami pun melanjutkan perjalanan di lokasi yang ketiga yakni ke Siti Inggil yang merupakan petilasan Prabu Raden Wijaya (pendiri kerajaan Majapahit) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Siti Inggil

Kami meninggalkan desa Pamenang Kediri sekitar pukul 02.30 WIB.
Mobilpun kembali bergerak cukup cepat. Kulihat Feri dan Hastu tertidur
pulas di dalam mobil. Sedangkan aku masih terus terjaga hingga tiba di
Siti Inggil. Sesampainya di Siti Inggil, Feri pun terbangun dan
langsung ikut denganku melakukan ritual. Sementara Hastu memilih untuk
tetap tidur di dalam mobil.

Setelah melakukan semedi di Siti Inggil, kami berziarah ke petilasan
Raden Wijaya. Di tempat tersebut, aku kembali mendengarkan kata-kata
ghaib yang menyatakan terimakasih pada kami bahwa kami sudah berhasil menelusuri tiga kerajaan besar dalam waktu satu malam. Sekeluarnya dari Areal petilasan Raden Wijaya, Aku kembali ngomong ke teman-temanku bahwa pepalang ketiga yang kecil tetapi memiliki arti yang cukup besar adalah Ngantuk. Artinya, selama melakukan ritual, kita tidak boleh tidur. Karena namanya saja lelaku, maka orang yang tidur bukanlah orang lelaku. Itulah pelajaran yang kami terima selama menelusuri tiga kerajaan besar di Jawa Timur.

Berziarah di Makam Sang Penakluk Pulau Jawa

Syech Subakir, tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya sosok tersebut. Tetapi Syech Subakir menjadi tokoh pertama Islam yang datang ke Pulau Jawa, jauh sebelum adanya para Walisongo maupun eranya syech Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak maupun Syech Maulana Magribi. Konon dahulu kala, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara yang sangat angker. Datanglah seorang syech dari Persia yang bernama Syech Subakir.

Angkernya pulau Jawa itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syech Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Kedatangan sang syech waktu itu boleh dikatakan sia-sia. Pasalnya, sang syech mengetahui sendiri bahwa masyarakat di tanah Jawa sudah menganut agama tauhid. Orang Islam menyebut Tuhan dengan nama Allah, sedangkan orang Jawa ketika itu menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Pengeran (Tuhan sebagai tempat untuk dingengeri).

Saat itulah sang Syech Subakir merasa bahwa agama Islam maupun apapun yang bersifat tauhid (hanya mengesakan Tuhan) adalah benar, walaupun apa namanya agama tersebut. Lantaran sudah menganut agama tauhid, maka Syech Subakir berniat untuk pulang ke Persia. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.

Akhirnya, Syech Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat. Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil. Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syech Subakir. Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.

Tidak ada yang tahu pasti dimana makam syech Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Tetapi ada yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa. Yang mana yang benar, Wallahualam.
indonesia_mtmerapi.jpg
Makam Di Beji Benowo

Sebuah makam di desa Beji Benowo, disebut-sebut sebagai makam syech Subakir. Makam tersebut terletak di dalam areal sebuah Pondok Pesantren. Jika kita mengunjungi makam tersebut, maka kita akan membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding yakni, Sabar, Temenan (Sunguh-sungguh), Ngalah (mengalah), Neriman (menerima pemberian Tuhan dengan Ikhlas). Tulisan tersebut terlihat biasa saja, tetapi mengandung arti yang sangat dalam.

Tulisan-tulisan di tembok masjid Pondok tersebut melambangkan sifat yang harus dimiliki manusia jika ingin dekat dengan Gusti Allah. Kami empat orang, Aku, Fery, Hastu dan Widji jauh hari sudah memiliki keinginan untuk berkunjung ke makam tersebut. Dan alhamdulillah akhirnya keinginan itupun menjadi kenyataan.

Setelah membaca tulisan-tulisan di tembok masjid pondok pesantren yang belum jadi itu, kami masuk ke dalam areal pondok yang saat itu sunyi sepi. Maklum, kami berziarah pada pukul 24.00 Wib. Sampailah kami di sebuah areal makam yang hanya terdapat sebuah makam di luar dan tiga makam di dalam sebuah rumah.

Ketika memasuki pintu makam, kita harus membungkuk lantaran pintunya dibuat rendah sehingga mengharuskan siapapun yang memasukinya haruslah membungkukkan badan. Satu makam diluar disebut-sebut sebagai makam kyai pengelola pondok pesantren tersebut. Sementara tiga makam di dalam adalah makam Syech Subakir dan dua makam istrinya. Makam Syech Subakir dan para istrinya itu ditutupi oleh kain putih sehingga untuk melihatnya, kita harus melongok dan membuka tabir kainnya.

Kami melakukan semedi di areal tersebut untuk beberapa lama. Ketentraman merasuki jiwaku saat melakukan semedi. Sementara teman-temanku sudah keluar semua, aku masih tetap bertahan sendirian di dalam makam tersebut memohon pada Tuhan agar mengampuni dosa-dosa Syech Subakir dan menerima semua amalannya.

Suara-suara ghaib tiba-tiba muncul dan mengajak dialog aku. Tak ada perasaan takut pada diriku. Akupun langsung ‘membunuh’ otakku agar tidak ikut bicara. Aku mulai bicara melalui rasa. Kami berbincang-bincang melalui mata batin. Beraneka pitutur luhur aku dapatkan sebagai sangu untuk mengarungi hidup di alam dunia yang fana ini. Alhamdulillah, begitulah kata-kata yang meluncur dari bibir kami karena sudah berziarah di makam Sang Penakluk Pulau Jawa.(*)

Alunan Rebana di Masjid Sunan Kalijaga

masjid_demak.jpg

Pada tanggal 20 Maret lalu, merupakan peringatan hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Sayang, apabila acara itu disia-siakan begitu saja. Jauh-jauh hari kami sudah merencanakan bahwa peringatan Maulid Nabi tahun ini kami akan merayakannya di Demak.

Alhamdulillah rencana itupun menjadi kenyataan. Kami berangkat dari Surabaya menuju ke Demak pada pukul 12.00 WIB siang. Keberangkatan kami berawal dari Bungurasih dengan naik bus jurusan Semarang. Kami sengaja memilih bus yang tidak ber AC agar kami bisa bebas merokok.

Bus tersebut melaju bak ’setan’. Dengan kecepatan sangat tinggi dan tidak peduli dengan penumpang yang sedikit, bus tersebut seolah-olah didorong dari belakang.

Kami tiba di kota Demak sekitar pukul 18.30 WIB. Lantaran niat kami sebagai orang-orang salik adalah untuk mencari suluk yang tersirat, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki dari pintu gerbang kota Demak ke masjid Sunan Kalijaga. Perjalanan tersebut sungguh melelahkan. Bayangkan saja, kami harus berjalan sejauh 15 km menyusuri jalan basah yang disertai dengan rintik gerimis hujan.

Hanya baju yang menempel di Badan yang kami bawa. Baju itu terasa basah oleh keringat dan gerimis hujan yang bercampur jadi satu. Basahnya baju itulah yang membuat perut kami mulai lapar. Dan kami memutuskan untuk makan terlebih dulu sebelum melanjutkan pencarian terhadap suluk ghaib. Kami makan bakso dengan lontong sembari melepaskan lelah. Setelah rasa lelah itu mulai lenyap, kamipun kembali berjalan menyusuri beberapa kampung yang gelap tanpa lampu menuju ke Masjid Sunan Kalijaga.

Dari jauh, kami mendengar suara rebana dan jidor yang ditabuh bertalu-talu sembari melantunkan pujian dan shalawat pada Nabi Besar SAW. Terus terang saja, hatiku tergetar mendengar lantunan pujian tersebut. Suara jidor yang ditabuh dengan keras seolah mengguncang hatiku. Begitu sampai di Masjid Sunan Kalijaga, kami pun langsung mengambil air wudlu dan shalat sunah 2 rakaat dan melanjutkan dengan shalat Isya.

Terasa nikmat bisa shalat di masjid Sunan Kalijaga yang juga salah satu penyebar agama Islam di tanah Jawa itu. Kami seakan-akan merasakan beratnya perjuangan Sunan Kalijaga dalam syiar agama Islam. Setelah beberapa saat berada di dalam masjid, kami pun berniat untuk meneruskan perjalanan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga. Tetapi, belum melangkah ke luar masjid, tiba-tiba hujan mengguyur cukup deras. Kami pun beristirahat sembari menunggu hujan reda.

Begitu hujan reda, kami melangkahkan kaki ke makam Sunan Kalijaga. Namun sebelumnya, kami sempatkan untuk minum segelas kopi guna menghangatkan tubuh. “Panjenengan saking pundi mas? (Anda dari mana mas?),” demikian tanya si penjual kopi ketika melihatku yang mengenakan sorjan (pakaian jawa) sambil membuatkan kopi. Saya menjawab bahwa kami berdua dari Surabaya. “Biasanipun menawi rawuh dhateng makam Sunan Kalijaga namung tiang 2-5, tiang meniku kagungan kemampuan spiritual,” kata si penjual kopi itu sembari menyuguhkannya pada kami.
“Wah…bapak meniko saged kemawon, kulo meniko mboten saged menopo-menopo kok pak,” ujarku sembari meminum kopi. Aku merasa yakin bahwa bapak penjual kopi tersebut juga memiliki ilmu yang tinggi sehingga bisa ‘membaca’ apa yang akan kami lakukan di kota Demak itu.

Setelah berbincang sekitar 1/2 jam dengan si penjual kopi,kamipun langsung melangkahkan kaki menuju ke makam Sunan Kalijaga. Di areal makam tersebut dipenuhi dengan orang-orang yang berziarah. Kami pun diantara para pengunjung itu yang khusuk memanjatkan doa untuk sang Sunan. Kami melakukan meditasi singkat di areal makam tersebut.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Kami harus melanjutkan perjalanan pencarian suluk ghaib tersebut. Dan tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Agung Demak. Kembali, kami harus berjalan sejauh 4 kilometer menuju ke Masjid Agung Demak dari areal Makam Sunan Kalijaga. Jalanan yang basah menjadi saksi langkah kaki kami.

Beberapa saat lamanya berjalan, akhirnya kami sampai ke Masjid Agung Demak. Di areal tersebut telah banyak orang yang tidur-tiduran di emperan masjid. Kembali kami melepaskan lelah sambil menunggu waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB dimana biasanya Masjid Agung Demak dibuka khusus saat Maulid Nabi. Dan tepat pada pukul 24.00 WIB, bedug masjid Agung Demak ditabuh. Seiring dengan itu, masjid pun dibuka sehingga kami memutuskan untuk mengambil air wudlu guna menunaikan shalat.

Aku melakukan shalat sunah 2 rakaat tahiyatul masjid dan shalat hajat, tepat di sebelah tiang buatan Sunan Kalijaga. Suasana dalam masjid terkesan sangat sakral. Seusai shalat, aku melanjutkan dengan meditasi. Dalam meditasi itulah aku mendengarkan pitutur ghaib tentang beraneka hal dalam kehidupan yang harus dilalui. Disamping itu, aku mendapatkan ‘ilmu’ yang sangat berguna bagi kehidupanku. Sedangkan temanku mendapatkan sebuah cemeti ghaib. Aku sangat puas dalam perjalanan tersebut karena banyak peristiwa di luar nalar yang terjadi.